Jumat, 31 Mei 2013

Time Machine

Kamu mungkin bisa kembali ke masa lalu,
tapi kamu tak akan pernah mungkin bisa mengubah masa depan.


Namanya Caleb, seorang anak kecil yang dengan mudahnya mendapatkan segalanya, bahkan tanpa meminta pun ia telah memiliki segala yang anak-anal lain mau. Anak itu sedang memandangi seorang gadis kecil di balik mobil mewahnya. Gadis kecil yang sedang memeluk boneka beruang rusak dan kotor, yang berdiri di sebelah ibunya yang kumal dan sedang meminta sedikit receh dari mobil-mobil yang sedang lewat. Anak lelaki itu menurunkan kaca mobilnya, memberikan sebuah miniatur mobil mewah berwarna biru pada anak gadis pengemis itu. Tidak, Bukan memberikan, tetapi melemparkan  miniatur mobil itu. Miniatur mobil itu jatuh tepat di bawah kaki gadis kecil pengemis itu. Ia tertarik. Tak pernah ia menyentuh mainan sebagus itu. Dipungutnya, dan ia menengadah ke arah miniatur itu berasalah. Ia hanya melihat sebuah mobil sedan mewah yang melaku melewatinya, melewati lampu lalu lintas yang sudah menyala hijau. Gadis kecil itu kembali memandangi miniatur mobil itu dan melihat sebuah tulisan disana. Tapi ia belum bisa membaca. Gadis kecil hanya tersenyum, menyimpan mobil itu di balik saku baju nya yang kotor dan tersenyum, berpikir bahwa itu adalah mobil yang Tuhan turunkan dari langit.

Di dalam mobil, Caleb si anak lelaki kaya, masih memandangi gadis itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia bertanya di dalam hati, mengapa gadis itu tidak berterimakasih padanya? Semua temannya berterimakasih padanya ketika ia memberikan mainan-mainan yang ia telah bosan kepada teman-temannya. Tapi mengapa gadis itu tidak? Lalu ia sadar, mobil itu mobil kesayangannya lalu ia merengek pada ibunya, "Ma, aku melempar mobilku ke anak kecil tadi.", sang Ibu menoleh ke belakang, tersenyum dan berkata, "Nanti mama belikan yang baru ya." Caleb tak menggubris, kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Sang ibu meminta supir berbalik arah. Ketika sampai di tempat tadi, Caleb mencari-cari gadis kotor dekil itu. Ia melihat gadis itu di seberang jalan. "Ma, itu dia!" Caleb menunjuk gadis kecil yang sedang berjalan menjauh itu sambil menangis. "Mama akan ambil mobil kamu, okey? Kamu jangan nangis ya. Mama akan kembali dengan mobil kamu." Sang ibu mencium anaknya dan berlari tanpa pikir panjang. Sebuah suara benturan keras terdengar. Caleb berhenti menangis, dia tidak lagi menangis.


(15 tahun kemudian...)
"Caleb!! Bisa tidak kamu tidak menyusahkan papa sekali saja?!", seorang lelaki tua berkacak pinggang di depan seorang pria muda - yang dipanggil Caleb - dan terlihat sangat marah.
"Pa, aku sama sekali gak tertarik sama bisnis, manajemen, atau apalah yang aku pelajari disana. Wajar aku kabur. Papa tinggal telepon dan bilang aku berhenti. Mudah kan pa?" Caleb menjawab dengan sangat santai, Ia tak melihat wajah sang ayah yang sudah memerah karena marah.
"Kamu ini!!! Ahh ya sudahlah. Papa kehabisan cara untuk mendidikmu. Keluar dari ruangan papa!" Ayahnya merebahkan diri di kursi kerjanya, memijat-mijat kepala kemudian meraih gagang telepon, "Bila, tolong bawakan obat saya." Ia menoleh lagi pada Caleb lalu dengan tidak sabar menyuruh Caleb keluar, "Pulanglah, Cal! Papa bisa masuk rumah sakit karena melihatmu lebih lama!!"
Caleb tak menjawab. Dengan santai ia menuju pintu dan berpapasan dengan seorang gadis.
"Bagus! Segera tutup pintu itu, Bila!", ucap ayah Caleb pada gadis itu. Caleb memandangi gadis itu hingga gadis itu berdiri tepat di sebelah pintu dan bersiap-siap menutup pintu. Caleb tak bergerak. Gadis itu menunggu. "Maaf, apakah anda berencana pindah dari tempat anda? Saya akan menutup pintu?" ucapnya dengan senyum semanis madu, dan intonasi sepahit obat. Caleb tanpa sadar mundur dari tempatnya, dan seketika itu juga gadis itu menutup pintu.
"Cantik. Tapi sangat judes." Ucapnya pada diri sendiri. Caleb sudah akan berencana segera keluar dari ruangan itu ketika ia melihat sesuatu di atas meja di sisi kirinya. Ia sepertinya mengenal benda yang ada di atas meja itu. Caleb mendekati meja dan meraih benda itu. Sebuah miniatur mobil berwarna biru. Untuk memastikan ingatannya, Caleb membalikkan sisi mobil, dan disanalah sebuah tulisan terpampang. Tulisan namanya. Ia tak akan lupa pada mobil kesayangannya itu. Ia juga tak pernah lupa hari dimana ia melemparkan mobil itu dan membuat hidupnya seketika berubah.

bersambung.....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar