Jumat, 31 Mei 2013

Aku Maya


Aku Maya, seorang gadis muda dengan obsesi tanpa batas, dan cinta yang juga tanpa batas. Aku mencintai seperti seorang idiot. Tak mengenal benar dan salahnya mencintai DIA. Tak mengenal peringatan dari seorang Ibu. Aku pernah mendengar. Ralat. Selalu mendengar tentang kedasyatan indra perasa seorang Ibu. Ibu bisa merasakan apakah ada yang tak beres dengan anaknya atau tidak. Ibu bisa merasakan apakah anaknya dalam bahaya atau tidak. Bahkan Ibu juga bisa merasakan apakah pasangan anaknya brengsek atau tidak. Aku juga sama. Aku memiliki Ibu yang seperti itu. Sayangnya, aku tak mendengarkannya. Aku tak peduli tentang pendapatnya. Aku hanya peduli pada cintaku. Aku hanya memikirkan bagaimana aku harus membahagiakannya, sekalipun aku harus menyakiti Ibuku. Aku hanya mementingkan perasaan DIA.


“Mama gak perlu berpendapat. Aku yang pacaran dengannya. Aku yang akan menikah dengannya. Mama selalu berpikiran sempit. Gak semua anak akan mengikuti jejak orangtuanya, Ma. Termasuk DIA. Dia tak akan seperti ayahnya.” Aku bicara dengan intonasi tak seharusnya pada Mama. Mama tidak segera menjawab, hanya diam sejenak. Kemudian menghela nafas panjang, terlalu panjang menurutku. Mamaku memang selalu seperti itu. Selalu berlebihan dalam menyikapi segala hal. Terlalu berpikiran sempit.
“Yang pasti, mama sudah berikan jawaban mama untuk permintaan ijin-mu kelak akan menikah. Jangan tanya mama lagi saat itu. Jawaban mama gak akan berubah. Mama pulang dulu.” Mamaku meraih tas tangan dan koper kecilnya kemudian beranjak keluar. Emosiku hampir sampai di puncak. Mama baru sampai tadi malam dari Jakarta, lalu ingin pulang lagi hanya karena mengetahui aku masih pacaran dengan DIA.
“Ma, jangan kekanak-kanakan. Mama baru sampai tadi malam. Setidaknya mama istirahat sampai siang baru pulang.”
“Mama gak dibutuhkan disini. Anak mama sendiri gak mendengarkan mama, jadi untuk apa mama disini. Seharusnya mama berkunjung ke rumah abangmu. Lebih menggembirakan bersama cucu daripada anak sendiri.” Ucapan mama sukses membuat darahku mendidih. Selalu seperti itu. Selalu akan memojokkan aku.
“Yaudah mama pulang sana! Nikmati hari mama dengan cucu mama itu. Mama selalu lebih menyayangi abang dan keluarganya dibanding aku!” aku masuk ke kamarku tanpa peduli lagi apa mama akan benar-benar pulang atau tidak. Aku lebih suka papa yang berkunjung daripada mama. Mama selalu akan mengomentari semua hal tentang aku. Dulu, saat abang masih bersamaku kuliah disini, mama tak pernah berkomentar sedikitpun tentangnya. Sekalipun nilainya selalu dibawah standar yang ditetapkan papa. Sekalipun dia selalu saja membuat masalah di kampus, bahkan sekalipun akhirnya dia menikah karena pacarnya hamil di luar pernikahan yang sah. Mama membuat week-end ini berantakan. Aku meraih ponsel-ku. Mencari nama DIA. Aku ingin mendengar suaranya. Aku rindu. Aku akan lebih tenang ketika DIA bicara padaku. Mendengungkan sejuta kata cinta dan sayang. Sebentar terdengar nada sambung. Aku menunggu. Lalu, suara seorang wanita seperti biasa. Aku menghela nafas. Memandangi ponselku dengan kesal luar biasa yang semakin luar biasa saja. Mama dan DIA, hari ini adalah sumber panas yang mendidihkan darahku. Lupakan kata cinta dan sayang, lupakan keinginan untuk lebih tenang. Aku merebahkan diri di kasur. Menerawang jauh melewati langit-langit kamar. Tertidur.


 Aku melewati hari minggu-ku begitu saja. Aku sudah berada di hari senin lagi. Itu artinya aku harus kembali bekerja. Kantor tak akan peduli apakah aku sedang bermasalah dengan mama atau tidak. Juga tak akan peduli apakah aku marah atau pasrah dengan tingkah DIA, yang kupuja dan kucintai sepenuh hati. Ditambah lagi aku adalah karyawan baru. Baru saja lulus. Baru saja diterima bekerja di kantor ini. Ingin rasanya bolos bekerja, dan pergi mengadu ke pelukan DIA. Rindu ini sudah diambang batas. Tapi ini bukan perkuliahan yang bisa seenaknya aku pergi membolos. Seperti dulu saat baru saja bersama DIA. Aku merelakan hari kuliah untuk menghapus rindu sesaat. Kantor masih belum ramai. Ini memang masih terlalu pagi untuk datang ke kantor. Tapi aku karyawan baru. Ini bentuk loyalitas yang harus ditunjukkan agar atasanku cukup memperhitungkan aku agar tidak di depak dari sini. Menunggu jam masuk kantor yang sebenarnya, aku memilih mendengar suara DIA. DIA pasti sudah bangun. Karena harus bekerja juga seperti aku. Nada sambungnya terhubung. Aku menunggu (lagi). Dan suara wanita seperti biasa (lagi). Aku menghela nafas lelah. Mungkin nanti sepulang kerja, aku bisa langsung menemuinya saja.


Aku menunggu di mobil dengan resah. Rindu pada DIA sudah terlalu besar. Daripada suara wanita itu yang menyambutku. Lebih baik aku langsung menemuinya. Aku bosan mendengar suara wanita itu. Dan aku mulai bosan menunggu di dalam mobil ini. Apa lebih baik aku turun dan masuk ke dalam kantornya? Tak akan ada apa-apa bukan? Semua orang disana tahu aku dan DIA adalah pasangan kekasih. Yang akan menikah sebentar lagi – jika DIA segera melamar aku – dan menjadi istrinya. Aku tersenyum membayangkan hal itu. Aku tak lagi mencoba menghubunginya, aku tak lagi mencoba menunggunya di dalam mobil ini. Aku berjalan keluar dari mobil, menuju gedung kantornya di seberang sana. Aku membayangkan DIA tersenyum lembut padaku dan mengajakku makan. Lalu kami akan menghabiskan malam dengan banyak cerita hari-hari yang berlalu. Khayalanku terhenti sejenak, begitu juga dengan langkahku. Aku melihat DIA. DIA sedang bersama seseorang yang kukenal. Jantungku seperti berhenti berdetak di dalam sana. Aku melihatnya dipukuli. Aku melihatnya dimaki-maki. DIA tidak memberi perlawanan. Aku ingin segera berlari kesana, tapi lalu lalang mobil dan kendaraan lain terlalu ramai. Apa aku menerobos saja? Tak peduli apakah aku akan tertabrak atau tidak. Mataku masih terpaku pada DIA yang kini bersimpuh di tanah, seperti patuh mendengar orang yang memukulnya – orang yang kukenal – yang terlihat berteriak marah. Sejenak kemudian DIA bangkit. Seperti kerasukan setan, membabi buta melayangkan pukulan kepada orang yang kukenal tadi. Aku terpaku. Tak pernah kulihat DIA seperti itu. Ditengah kejadian itu, seorang perempuan datang dengan panik dari arah sebuah mobil. Aku kenal mobil itu. Jantungku sekali lagi seperti berhenti berdetak. Aku harus segera menyeberang. Harus sampai disana. Aku nekad menerobos lalu lalang kendaraan yang begitu ramai itu. Dengan perasaan berkecamuk aku sampai di tengah, di pembatas jalan dua arah itu. Aku tinggal menyeberang satu lagi jalan raya yang penuh lalu lalang kendaraan. Aku baru akan melangkah ketika kudengar bunyi benturan keras. Terlalu keras hingga memekakkan telinga. Aku melihat sebuah tubuh terbanting dan terjatuh ke tanah. Tubuh itu penuh darah. Aku melihat orang yang kukenal itu berlari panik menghampiri tubuh itu. Aku juga melihat DIA yang terlihat kaget tapi justru berlari meninggalkan tubuh itu dan keramaian yang ditimbulkannya. Jantungku kali ini sepertinya benar-benar berhenti berdetak. Lalu lintas seketika saja berhenti. Membiarkan aku berjalan gontai ke arah tubuh itu. Tubuh itu dipeluk seseorang yang kukenal. Mama dipeluk abang, dengan banyak darah keluar. Matanya tertutup. Abang menangis. Aku terduduk. Kakiku seperti tak bertulang. Lemas dan tak ada tenaga. Aku terduduk tepat di depan abang dan mama. Samar-samar aku mendengar orang-orang berteriak agar dipanggilkan ambulans. Aku juga mendengar abang memanggil-manggil mama. Aku mendengar orang yang menyebutkan alamat. Aku mendengar namaku disebut abang. Aku mendengar orang-orang berkata, “Kasihan ya”, “Itu bukannya Maya kekasih gelapnya Arya.”,” Arya yang dorong kan?”, “Katanya ngelabrak Arya tadi kesini.”, dan entah perkataan apalagi yang berdengung di telingaku. Aku mendengar terlalu banyak, tapi mataku, fokusku, tertuju pada tubuh mama yang tak bergerak, matanya tertutup. Aku mendengar hatiku menangis. Lalu, aku melihat gelap.


Aku Maya, seorang gadis muda dengan obsesi yang terhenti di batasnya sendiri, dan cinta tanpa batas yang menghancurkan seluruh cinta yang kupunya. Aku kehilangan cinta terbesar dalam hidupku. Aku kehilangan orang paling penting dalam hidupku. Aku tak mendengarkannya, maka aku kehilangannya. Aku mencintai orang yang salah, aku memuja orang yang salah. Aku tak memberikan cinta yang benar pada Ibuku, hingga dia meninggalkan aku dengan sesal dan rasa bersalah. Ibu itu punya indra perasa yang hebat. Itu benar. Aku tak mendengarkannya. Aku tak percaya ketika ia berkata, DIA tak bisa jadi suami yang baik kelak. DIA akan seperti ayahnya yang menikah lagi dan meninggalkan keluarganya. DIA bahkan sudah meninggalkan aku sebelum aku menjadi bagian dari dirinya. DIA sudah menikah dua bulan lalu, dan tetap menjadi kekasihku. Membiarkan aku menempati posisi kekasih gelap. Membuat aku melawan indra perasa Ibuku. Membuat aku melepaskan cinta terhebat Ibuku.
Aku Maya, seorang gadis muda yang bodoh. Gadis muda yang dibutakan cinta. Gadis muda yang tak tahu rasa terimakasih dan syukur atas kasih Ibu. Aku Maya, seorang gadis muda yang kehilangan Ibu, karena mengupayakan kebahagiaanku. Aku Maya, seorang gadis muda yang membiarkan Ibuku mati demi keegoisanku sendiri. Aku Maya, seorang gadis muda yang menyesal. Aku Maya, anak gadis mama yang memohon maaf tanpa henti hingga ajal menjemputku, Ma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar